Sejarah dan Asal-usul Tradisi Upacara Ghatib Beghanyut

Sejak zaman dahulu, Siak dikenal dengan adat istiadat, budaya dan tradisi Melayunya yang begitu kental dan religius berdasarkan syariat Islam. Salah satu tradisi itu adalah Ghatib Beghanyut. Sejak itu, adat-istiadat Melayu disebut adat bersendi syarak yang berpegang kepada kitab Allah dan sunah Nabi.

Asal-Usul Ghatib Beghanyut

Asal Usul Ghatib Beghanyut Istilah Ghatib Beghayut merupakan gabungan dari dua unsur kata, Ghatib berarti dzikir, sedangkan Beghanyut artinya hanyut di atas perahu. Jadi, Ghatib Beghanyut adalah kegiatan dzikir yang dilakukan di atas perahu, dan seiring dengan derasnya arus sungai Siak membuat perahu hanyut. Kegiatan Ghatib Beghanyut diikuti sejumlah jamaah masjid dan mushalla, selama kegiatan doa dan zikir didengungkan di tengah sungai. Dulu pada zaman kesultanan Siak, ada suatu perkampungan terkena wabah penyakit menular (sampar). Maka untuk mengatasi masalah ini, seluruh ulama dikumpulkan untuk melaksanakan ritual ghatib (zikir). Dimulai malam hari setelah Shalat Isya dengan berjalan berkeliling kampung diikuti semua lapisan masyarakat membawa obor sebagai penerangan. Setelah menyelesaikan perjalanan berkeliiling kampung, dilanjutkan berzikir di atas Sungai Jantan ketika air surut agar masyarakat dapat pulang dengan selamat serta untuk mengusir bala keluar menuju kearah laut, sehingga terusirlah semua wabah bencana dari kampung itu. Dengan menggunakan perahu, mereka membawa berbagai sesajian hasil bumi untuk disajikan ke Sungai Siak. Dengan sesajian itu, mereka berharap warga yang tinggal di sekitar sungai dapat dijauhkan dari mara bahaya. Setelah menebar sesajen, mereka pun terus melaut ke desa-desa di sekelilingnya. Tujuannya ialah ingin menjaga hubungan dengan warga sekitar sehingga dapat bersama-sama bergandeng tangan untuk menolak bala.

Ghatib Beghanyut Sebagai Sarana untuk Tolak Bala

Tradisi Upacara Ghatib Beghanyut
Tradisi Ghatib Beghanyut ini merupakan tradisi dalam bentuk ritual tolak bala asli dari leluhur masyarakat Siak. Ghatib Beghanyut merupakan sebuah ritual berupa zikir mengagungkan Illahi Rabbi. Dulu pada zaman kesultanan Siak, Mempura merupakan pusat pemerintahan kerajaan pada saat Siak dipimpin oleh Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzaffar Syah. Sultan Muhammad Abdul Jalil Muzaffar Syah merupakan anak dari pendiri kerajaan Siak yaitu Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah atau lebih dikenal dengan nama Tengku Buang Asmara. Sebelumnya, pada masa awal pendirian kerajaan Siak pusat kerajaan Siak berada di Buatan. Pada masa pemerintahan sultan ke 11 ini pemerintahan Kesultanan Siak dipindahkan di Mempura. Pada saat pemerintahan Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah daerah Mempura sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Siak dilanda bencana dan musibah yang besar.

Melemahnya Perekonomian Kesultanan Siak akibat Wabah dan gagal panen

Adapun bencana dan musibah yang dialami oleh kesultanan Siak di Mempura berupa munculnya hewan-hewan buas seperti halnya Harimau dan Buaya putih yang meresahkan warga setempat. Selain munculnya hewan-hewan buas, Mempura dilanda penyakit-penyakit yang mengerikan seperti kolera, cacar dan penyakit kiriman yakni santet. Dengan bencana yang melanda Kesultanan Siak mengakibatkan stabilitas perekonomian di dalamnya terganggu. Kelumpuhan ekonomi Kesultanan Siak diperparahkan lagi dengan gagalnya panen terus-menerus. Untuk mencegah musibah yang terjadi terus-menerus maka Sultan memerintahkan para alim ulama untuk berkumpul membicarakan masalah yang sedang dihadapi di Kesultanan Siak saat itu. Sultan meminta bantuan alim ulama untuk memimpin doa bersama meminta kepada Allah SWT selaku zat yang maha pencipta agar musibah yang terjadi bisa hilang dari tanah kesultanan Siak. Dzikir dan doa dilakukan di tepi Sungai Siak dengan menggunakan sampan, yang dinamakan sampan jalo. Para alim ulama yang telah dikumpulkan beserta rombongan yang telah ditentukan untuk melakukan dzikir dan doa di atas sampan jalo untuk membuang energi-energi negatif yang ada dikampung tersebut ketempat daerah yang tak berpenghuni. Dari sinilah awal mulanya upacara Ghatib Beghanyut dilakukan. Seiring perubahan zaman, telah terjadi perubahan tentang proses pelaksanaan Ghatib Beghanyut. Prosesi Ghatib Beghanyut dulunya memakai tabur bunga dan persembahan sesajen kesungai namun seiring berjalannya waktu hal itu tidak lagi dilaksanakan karena hal tersebut dapat melanggar syariat dan ajaran Islam
Tags

Posting Komentar

0 Komentar
* Please Don't Spam Here. All the Comments are Reviewed by Admin.

buttons=(Accept !) days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !